Skripsi Musik, Bentuk Musik, Fokus Permasalahan, Rumusan Masalah, Manfaat Penelitian, Pengertian Analisa Musik, Unsur-unsur musik, Harmoni, Tempo
LATAR BELAKANG MUSIK, PENGERTIAN ANALISA MUSIK, UNSUR-UNSUR MUSIK, BENTUK MUSIK, ALIENASI DALAM MUSIK
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, karena manusia mempunyai suatu rasio atau nalar yang dapat dibedakan dari makhluk ciptaan Tuhan lainnya yaitu hewan dan tumbuhan.
Oleh karena itu, manusia selalu berkembang terus menerus untuk menyempurnakan dirinya untuk menjadi lebih baik. Manusia juga merupakan makhluk sosial. Manusia tidak dapat berdiri sendiri dan memerlukan bantuan dari orang lain, maka dari itu manusia membutuhkan komunikasi satu dengan yang lain.
Zaman dahulu cara manusia berkomunikasi dengan menggunakan simbol-simbol. Simbol- simbol tersebut berupa gambaran dalam bentuk seni rupa, dan ada juga dalam bentuk tarian dan musik yang menunjukan cara berkomunikasi mereka dengan Tuhan ataupun dengan sesama. Contohnya adalah seperti di Indonesia, untuk menghormati adat istiadat atau pemujaan kepada Tuhan, dilakukannya sebuah pemujaan dengan berupa tarian, nyanyian ataupun relief-relief.
Dalam berkomunikasi juga di dalamnya terkandung pesan atau luapan perasaan seseorang yang ingin disampaikan kepada orang lain. Dahulu dizaman prasejarah di kota Mesir, seorang ibu bersedih atas kehilangan putra sulungnya sambil menyanyikan lagu duka yang bisa dikenal dengan lagu ratapan yang disebut dengan Manneros (bahasa Yunani). Hal ini merupakan suatu contoh bahwa musik merupakan suatu wadah untuk mengungkapkan perasaan seseorang sehingga pendengar mengerti akan maksud musik tersebut.
Musik merupakan bagian dari kehidupan manusia. Seperti di zaman sekarang, musik bisa kita perdengarkan setiap hari, dan dimana saja .Hal ini menunjukkan bahwa musik mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia dari masa ke masa sehingga musik semakin lama semakin berkembang.
Musik merupakan salah satu bentuk seni. Berdasarkan bentuk dan mediumnya, seni dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok, yaitu seni rupa , seni pertunjukkan, dan seni sastra. Seni rupa menurut fungsinya dapat digolongkan menjadi seni murni dan seni terapan. Seni pertunjukkan mencakup seni tari, seni musik, seni drama/teataer, seni film, serta pantonim, dan seni sastra meliputi prosa, puisi, dan jenis seni lainnya.
Musik adalah ilmu atau seni menyusun nada atau suara dalam urutan atau kombinasi dan hubungan temporal yang menghasilkan komposisi (suara) yang mempunyai kesatuan dan berkesinambungan . Musik dapat dijadikan media untuk mengungkapkan perasaan, emosi, ekspresi, imajinasi, dan sebagainya.
Salah satu jenis musik yang hingga sampai saat ini bertahan adalah musik klasik. Musik klasik berkembang terus sejak tahun 450 Masehi di Eropa. Pada perkembangannya, musik sangat dipengaruhi oleh peradaban dan kebudayaan manusia yang semakin berkembang dari masa ke masa. Seperti yang umumnya kita ketahui dalam kebudayaan musik Barat, perkembangan musik dibagi dalam beberapa periode. Diawali dengan periode Abad Pertengahan (450-1450), periode Renaissance (1450-1650), periode Barok (1650-1750), periode Klasik (1750-1820), periode Romantik (1820-1900), awal abad 20 hingga 1950, dan 1950 sampai sekarang . Pengklasifikasian ini terjadi karena adanya perbedaan gaya musik yang mendasar pada masing-masing periode tersebut. Perbedaan ini dapat dirasakan saat mendengar musik dari masing-masing periode zaman itu.
Terdapat suatu ciri yang dirasakan baik dari melodi, interval, harmonisasi, maupun emosi yang mewakili musik dari masing-masing zaman, seperti : periode zaman abad pertengahan dengan ciri monophonicnya, periode zaman Renaissance serta Barok dengan ciri polyphonicnya , zaman Klasik dengan ciri homophonicnya, zaman romantic dengan ciri chromatic scalenya, awal abad 19 hingga hingga 20 dengan ciri sistem twelve tone, dan hingga sekarang dengan ciri musik elektroniknya.
Dari bentuk dan struktur musik tersebut, karya musik dapat diklasifikasikan. Diantaranya terdapat unsur-unsur seperti melodi, irama, harmoni dan dinamika . Seperti yang diungkapkan oleh Jamalus bahwa, “musik adalah suatu hasil karya seni dalam bentuk lagu atau komposisi yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penciptanya melalui unsur-unsur musik, yaitu irama, melodi, harmoni dan ekspresi sebagai suatu kesatuan” .
Pada abad XX merupakan masa dimana musik tidak bisa lagi dipahami dengan pendekatan yang sama seperti musik di abad-abad sebelumnya. Baru di abad XX inilah komponis mulai berpikir mengenai relasi mereka dengan masyarakat, berbeda sekali dengan jaman Barok dan Klasik. Komposer di era modern menciptakan karya –karya musik klasik di berbagai dunia. Musik, seperti kesenian lainnya, banyak dipengaruhi oleh gejolak politik dan sosial di Eropa pada paruh pertama abad XX . Perkembangan fasisme di Eropa cukup banyak mencekal visi dari para komponis, misalnya Paul Hindemith di Jerman yang sempat dicekal oleh Nazi (McNeill, 1998B: 354). Terjadinya Perang Dunia I (1914-1918) yang membuat optimisme terhadap kemajuan manusia justru berujung menuju krisis di Eropa. Akhirnya semua hal non-musik ini berpengaruh besar pada perkembangan musik di abad XX.
Semua gejolak politik dan sosial yang timbul akibat fasisme dan perang mengakibatkan para komponis musik menjadi bereaksi keras . Mereka meluapkan kekecewaan mereka secara “berlebihan”, hal yang sering disebut para musikolog sebagai gaya ekspresionisme dalam musik. Komponis - komponis jaman itu menjadi sangat kritis dan semakin memotret gejolak di masyarakat sekitarnya. Luapan kekecewaan dan kritik sosial dari para komponis ini disampaikan dalam musik mereka, dengan menggunakan suatu teknik komposisi yang disebut sebagai alienasi (Verfremdungseffekt) di dalam musik. Masalahnya adalah para komponis ini berusaha mencari solusinya sendiri-sendiri, sehingga mereka menyuarakan semua ini lewat musik mereka masing-masing. Hal inilah yang membuat gaya musik di abad XX sangat beragam, dan bisa dibilang merupakan puncak individualisme dalam musik yang sebenarnya sudah dimulai sejak jaman Romantik.
Mochtar Embut merupakan salah satu komponis Indonesia yang banyak membuat suatu karya dalam bentuk vocal ataupun instrument. Salah satu karya Mochtar Embut dalam berbentuk instrumen yaitu “Corat Coret”. Lagu “Corat-Coret” adalah salah satu bentuk perkembangan harmoni yang terdapat alienasi (Verfremdungeffekt) di Indonesia. Lagu “Corat-coret” merupakan lagu yang dibuat oleh Mochtar Embut karena merasa ketidaknyamanan dengan keadaan Indonesia pada saat pemerintah Belanda ingin merebut kemerdekan Indonesia dengan memiliki progresi harmoni dan melodi yang menarik untuk diteliti.
Lagu “Corat-coret” ini merupakan lagu wajib yang dimainkan untuk mencapai tingkat kelulusan tingkat VI di Sekolah Musik Yayasan Pendidikan Musik pada tahun 2012.
Fokus Permasalahan
Yang ingin penulis angkat untuk dijadikan fokus pada penelitian ini adalah bagaimana tinjauan karya Corat-coret dari Mochtar Embut secara harmoni ?
Rumusan Masalah
Sesuai dengan latar belakang yang dibuat peneliti, adapun rumusan masalah dari penelitian ini adalah
- Bagaimana, analisis melodi dan harmoni pada lagu Corat-Coret karya Mochtar Embut?
- Bagaimanakah interpretasi lagu “Corat-coret” karya Mochtar Embut ?
Manfaat Penelitian
- Memberikan pemahaman yang lebih dalam kepada para pemain piano yang akan memainkan karya ini
- Sebagai wujud dari pendidikan perkuliahan yang didapat selama masa studi di Jurusan Seni Musik, Universitas Negeri Jakarta.
- Sebagai referensi bagi mahasiswa Universitas Negeri Jakarta.
- Memberikan pengetahuan yang bermanfaat mengenai sebuah karya musik
Pengertian Analisa Musik. Secara umum analisis dapat didefinisikan kegiatan untuk mengurusi sesuatu masalah lalu menempatkannya dalam bentuk potongan-potongan atau bagian-bagian dalam suatu penjelasan yang dapat ditangkap makna atau artinya . Secara umum analisis juga untuk memeriksa suatu masalah untuk menemukan semua umsur-unsur yang bersangkutan .
Menurut Schonberg (1874-1951) yang dimaksud dengan analisa musik adalah kegiatan menguraikan masalah suatu karya musik dalam bentuk unsur-unsur yang dapat ditempatkan dalam kategori –kategori musikal seperti harmoni, melodi, ritme, tempo, dinamika, dan bentuknya . Pendapat lain menurut Jamalus yang dimaksud dengan analisa musik adalah kegiatan yang didalamnya menyusun hubungan antara unsur-unsur musik lagu disusun dengan pola tertentu dengan pengorganisasian dan hubungan antara bagian – bagian musik sehingga menjadi wujud .
Dapat disimpulkan bahwa analisis dalam musik adalah cara mengetahui suatu karya musik dengan mendetail dengan cara melalui proses membagi–bagi objek penelitian hingga sampai ke pembahasan bagian-bagian yang terkecil untuk menentukan unsur-unsur musik yang tersusun dalam suatu karya musik tersebut.
Unsur-unsur musik.
Dalam meninjau dan menganalisis suatu karya musik, banyak hal hal yang harus diperhatikan untuk diteliti. Di dalam sebuah karya musik terdapat beberapa unsur yang membangun karya. Unsur-unsur tersebut antara lain ritmik, melodi, harmoni, tekstur dan timbre dan dinamika, bentuk dan style yang berguna untuk megindetifikasi bagian yang paling besar dan dilanjutkan ke bagian yang terkecil.
a. Melodi
Melodi adalah suatu urutan nada yang utuh dan membawa makna . Melodi berasal dari kata Yunani yaitu melodia yang artinya bernyanyi atau berteriak atau disebut juga suara yang bisa diartikan sebagai suksesi linear nada musik yang dianggap sebagai kesatuan. Melodi juga disusun dari gerakan-gerakan melangkah dengan interval yang sempit dan interval yang besar. Di dalam melodi juga tersusun progresi akord yang dimana menentukan untuk membuat suatu frase tanya dan frase jawab. Melodi berfungsi untuk mengartikulasikan musik, dan menandakan nafas dari sebuah lagu. Melodi biasanya terdiri dari beberapa susunan frase yang dapat mengalami pengulangan, sekuens maupun variasi. Melalui melodi dalam masing-masing karya musik, akan terlihat bahwa sebuah karya musik dari seorang komposer pada suatu daerah akan berbeda dengan karya komposer lain yang berada di daerah yang lain.
Dalam unsur melodi juga dikenal dengan tangga nada, yaitu susunan beberapa buah melodi yang mempunyai jarak tertentu dengan melodi yang lain secara berurutan. Secara sederhana, tangga nada terbagi dalam dua jenis yaitu tangga nada mayor, dan tangga nada minor. Tangga nada minor terbagi menjadi tiga jenis tangga nada minor, yaitu minor asal/natural, minor harmonik, dan minor melodik.
Seven Notes Scales merupakan mode diatonic atau Gregorian Scale . Scale yang memiliki tujuh buah not hampir mirip oktaf tetapi di dalamnya bisa terdapat not yang tidak ada dalam tangga nada aslinya.
- Ionian : rentangan nada dari C hingga C oktaf mewakili skala C Ionian atau C Mayor. Struktur tangga nada C mayor ini terbentuk atas lima whole step dan dua half-step.
- Dorian : rentangan nada dari “D” hingga “D” Oktaf mewakili skala “D” Dorian. Mode ini tergolong minor dan strukturnya terdiri dari lima Whole Step dan dua Half-Step. Dengan nada D sebagai nada dasar, skala tersebut dapat digunakan sebagai mode D Dorian.
- Phrygian : rentangan nada dari E hingga E Oktaf mewakili skala Phrygian. Mode ini tergolong minor dan strukturnya terdiri atas lima Whole Step dan dua Half Step.
- Dengan nada E sebagai nada dasar, maka disebut E Phrygian. Lydian : rentangan nada dari F hingga F oktaf mewakili skala Lydian. Mode ini tergolong mayor dan strukturnya lima Whole Step dan dua Half Step. Dengan nada F sebagai nada dasar, maka disebut F Lydian.
- Mixolydian : rentangan nada dari G hingga G oktaf mewakili skala Mixolydian. Mode ini tergolong mayor dan strukutnya lima Whole Step dan dua Half Step. Dengan G sebagai nada dasar, maka disebut G Mixolydian.
- Aeolian : rentangan nada dari A hingga A oktaf mewakili skala Aeolian. Mode ini tergolong minor natural. Secara struktural mempunyai lima Whole Step dan dua Half Step. Dengan nada dasar A maka disebut A Aeolian.
- Locrian : rentangan nada dari B hingga B oktaf mewakili skala Locrian. Mode ini tergolong diminish. Secara struktural mempunyai lima Whole Step dan dua Half Step. Dengan nada dasar B maka disebut B Locrian.
Eight note Scales bisa dikatakan secara umum adalah Octatonic Scale. Octatonic Scale adalah tangga nada yang terdiri dari delapan buah nada yang di dalam nada tersebut mempunyai jarak Whole Step dan Half Step antara nada satu ke nada lainnya.
Pada melodi terdapat interval yang memiliki pengertian jarak dari satu nada ke nada yang lain. Berikut ini adalah nama-nama interval dengan jaraknya :
Interval juga terbagi menjadi dua kelompok , yaitu :
- Interval murni. Interval yang termasuk murni adalah prime, kwart, kwint, dan oktaf. Interval murni dapat berubah menjadi augmented apabila jaraknya lebih dari setengah dari jarak interval murni. Akan berubah menjadi diminished apabila jaraknya kurang dari setengah dari jarak interval murni.
- Interval Mayor. Interval yang termasuk pada interval mayor adalah sekon, terts, sekt, dan septime. Dapat berubah menjadi augmented apabila jaraknya lebih dari setengah dari jarak interval murni. Akan berubah menjadi diminished apabila jaraknya kurang dari setengah dari jarak interval murni.
Harmoni adalah ilmu pengetahuan dan seni dalam mengkombinasikan nada menjadi akor atau pengelompokan nada secara vertikal . Harmoni juga membicarakan tentang keselarasan nada. Harmoni bersumber dari interval sederhana yaitu, prime, kwint, dan juga oktaf, lalu pada abad pertengahan dilengkapi dengan terts dan sekt . Semakin majunya zaman, munculnya ilmu harmoni klasik yang mengatur susunan akor maupun urutan akor.
Pengembangan dari akor trinada adalah akor caturnada, pancanada, dan seterusnya. Akor caturnada dalam formula akornya ditambahkan nada ke-7 sehingga ada empat nada dalam akor tersebut.
Progresi akor digunakan juga dalam menutup sebuah alur lagu atau sebuah melodi dalam sebuah frase yang disebut kadens. Terdapat jenis kadens sesuai dengan fungsinya. Jenis kadens antara lain : Kadens Perfek (V-I), Kadens Plagal (IV-I), Kadens Imperfek (V-I, IV-I), Kadens Interupsi (V-VI)
- Kadens Perfect : V – I
- Kadens plagal : IV-I
- Kadens Interupsi : V- VI
- Kadens Imperfek : I-IV-I-V
Terdapat pula akor (extended chord, poly chord, extension), penambahan not pada akor (7th, 9th, 11th, 13th), yang dapat menambah kualitas dan disonan tanpa merubah fungsi akor tersebut. Penambahan akor tersebut dinamakan akor superimpose.
c. Ritmik
Ritmik adalah prinsip yang mengatur gerak lambat atau cepat, waktu panjang atau pendek . Plato mendefinisikan ritme sebagai “prinsip ukuran gerak”, khususnya gerakan badaniah. Arti istilah ini adalah bahwa ritme berkaitan dengan gerakan badaniah, suara, bahasa, dan nyanyian, dan gerakan nada yang dihasilkan oleh alat musik . Pada abad- abad pertengahan berkembanglah notasi mensurual yang dimana tidak hanya menemukan tinggi nada tetapi juga dengan durasi nada. Panjang pendeknya suatu nada dibunyikan dan seberapa cepatnya suatu karya dimainkan dan diatur dalam konsep ritmik. Ritmik menjadi satu kesatuan dengan birama. Pada birama terdapat ketukan yang membentuk unsur birama tersebut.
Birama merupakan kelompok pulsa yang di berikan penekanan (aksen) pada ketukan pertamanya. Birama terdapat tiga jenis yaitu dari birama sederhana, birama majemuk dan birama campuran.
Contoh birama sederhana adalah 2/4, 3/4, 4/4, 2/2, 2/1 . Dalam birama 2 /4 mempunyai arti bahwa di dalam satu birama terdapat 2 ketuk yang di dalamnya mempunyai nilai not ¼ di dalam satu ketuknya.
Begitu juga dengan 3/4 mempunyai arti bahwa di dalam satu birama terdapat 3 ketuk yang di dalamnya mempunyai nilai not ¼ di dalam satu ketuknya.
Begitu juga dengan 4/4 mempunyai arti bahwa di dalam satu birama terdapat 4 ketuk yang di dalamnya mempunyai nilai not ¼ di dalam satu ketuknya.
Birama 2/2 kesatuan hitungan adalah nada 1/2, artinya pada satu birama terdapat 2 ketukan berdasarkan nilai not yang bernilai 1/2 .
Contoh
birama majemuk adalah 6/8, 9/8, dan 12/8. Dalam birama 6/8
mempunyai arti dalam satu birama terdapat 6 ketukan berdasarkan
nilai not yang bernilai 1/8.
Dalam birama 9/8 mempunyai arti dalam satu birama terdapat 9 ketukan berdasarkan nilai not yang bernilai 1/8.
Dalam birama 12/8 mempunyai arti dalam satu birama terdapat 12 ketukan yang di dalamnya mempunyai nilai not 1/8 di dalam satu ketuknya.
Contoh birama campuran adalah 5/4, 7/4 dan 7/8. Dalam birama 5/4 dalam satu birama terdapat lima ketuk yang di dalamnya mempunyai nilai not 1/4 di dalam satu ketuknya.
Dalam birama 7/8 mempunyai arti dalam satu birama terdapat tujuh ketukan yang di dalamnya mempunyai nilai not 1/8 di dalam satu ketuknya.
Tempo
Tempo merupakan satuan kecepatan dalam musik. Tempo mengatur cepat atau lambatnya suatu karya musik. Dalam perkembangannya pada abad 13-16 tempo diungkapkan dengan not putih untuk tempo lambat not hitam dengan tempo untuk tempo sedang, dan not bendera untuk tempo cepat . Beberapa contoh di antaranya :
Tempo Lambat
- Grave : Lambat, tenang ( MM=40-44)
- Largo : Sangat Lambat (MM=44-48)
- Lento : Lambat ( MM= 50-54)
- Adagio : Lebih lambat dari andante (MM = 54-58)
- Larghetto : Sedikit lebih cepat dari Largo ( MM=58-63)
Tempo Sedang- Andante : seperti orang berjalan (MM=69-76)
- Andantino : sedikit lebih cepat dari Andante (MM=76-84)
- Moderato : sedang (MM =92-104)
Tempo cepat- Allegretto : agak cepat (MM=104-112)
- Allegro : cepat (MM=126-138)
- Vivace : lincah, dan cepat (MM = 152-168)
- Presto : sangat cepat (MM= 176-192)
- Prestissimo : sangat sangat cepat (MM=192-208)
Dalam suatu karya musik , tempo tidak selalu dimainkan dalam satu indikator yang sama dari awal hingga akhir lagu. Perubahan tempo juga bisa menjadikan perubahan suasana terhadap suatu lagu. Tanda – tanda lain yang menyatakan perubahan tempo adalah Accelerando yang mempunyai arti semakin cepat dan Ritardando yang mempunyai arti semakin lama semakin lambat.
DinamikaDinamika adalah tanda untuk memberikan suatu keras atau lembutnya suatu musik . Dinamika termasuk unsur paling penting dalam pembawaan musik. Dinamika biasanya digunakan oleh komposer untuk menunjukkan bagaimana perasaan yang terkandung dalam lagu tersebut.
Ada beberapa tanda dinamika yang digunakan dalam karya musik yaitu ;
Pianissimo (pp) : memainkannya dengan sangat lembut
Piano (P) : memainkannya dengan lembut
Mezzo Piano (mp) : memainkan dengan agak lembut
Mezzo forte (mf) : memainkan dengan agak keras
Forte (F) : Memainkan dengan keras
Fortessimo (FF) : Memainkan dengan sangat keras
Di dalam musik juga terdapat tanda dinamika yang menuliskan dinamika secara bertahap dengan tanda Cresescendo dan Decrescendo. Tanda Crescendo dilambangkan dengan tanda (<) yang mempunyai arti semakin lama semakin keras dalam bermain musik. Decrescendo dilambangkan dengan tanda (>) yang mempunyai arti semakin lama semakin lembut dalam bermain musik.
Istilah istilah dinamika dan tempo terkadang menggunakan tambahan di depannya seperti :
- Meno : Lebih sedikit
- Poco : Sedikit
- Poco a poco : Sedikit demi sedikit
- Molto : Banyak
- Piu : Lebih banyak
- Similie : seperti
- Con : dengan
- Subit : segera
Bentuk Musik Bentuk musik merupakan suatu gagasan atau ide yang nampak dalam pengolahan tujuh susunan nada yang di dalamnya terdapat unsur musik dalam sebuah komposisi (melodi, irama, harmoni, dan dinamika). Istilah bentuk musik digunakan untuk mengidentifikasi pola-pola yang lebih kecil baik bekerja di musik instrumental maupun di vocal. Bentuk struktural utama disebut bagian. Maka istilah dua bentuk bagian atau tiga bentuk bagian atau tiga bentuk bagian lagu tidak mengacu pada jumlah suara yang berpartisipasi tetapi menjadi untuk bagian utama . Di dalam bentuk musik terdapat unsur yang mendukung bentuk musik yaitu, motif, frase kalimat, dan struktur.
Frase kalimat / periode
Merupakan sejumlah ruang birama yang merupakan satu kesatuan di dalam sebuah musik. Kesatuan di dalam sebuah musik, dapat dilihat dari akhir kalimat yang menimbulkan berakhirnya suatu lagu dengan progresi akor tertentu yang membuat suatu lagu mempunyai suatu ciri khas pada simetri kalimat. Ilmu bentuk menggunakan sejumlah kalimat / periode yang ditandai dengan huruf besar (A, B, C, dsb). Bila sebuah kalimat periode diulang dengan disertai perubahan , maka huruf besar disertai dengan tanda petik (‘) misalnya A, B, A’
Di dalam sebuah musik terdapat sebuah kalimat yang di dalam kalimat ini terdapat dua anak kalimat (pharase), yaitu yang terdiri atas:
1. Kalimat pertanyaan / Antencedens phrase
Kalimat pertanyaan berada di awal kalimat. Kalimat pertanyaan ini biasanya berhenti pada akor yang mengambang, maka pada umumnya di dalam kalimat pertanyaan menggunakan akor dominan yang menimbulkan kesan pada lagu belum selesai dan lagu tersebut kan dilanjutkan.
2. Kalimat jawaban / Concequens phrase
Kalimat jawaban merupakan bagian kedua dari kalimat sebelumnya, karena di kalimat jawaban ini melanjutkan pertanyaan dan biasanya berhenti di akor tonika.
Dari gambar di atas birama 1 hingga birama 2 merupakan merupakan kalimat tanya atau Antecedens dikarenakan pada birama 2 pada ketukan ke tiga menggunakan akor V yang artinya kalimat dalam lagu tersebut belum selesai, lalu pada birama 3 sampai merupakan kalimat jawab atau Consequens dengan pemberhentian lagu tersebut di akor tonika.
Di dalam sebuah karya terdapat beberapa tipe bagian bentuk lagu, yaitu ;
Satu bagian
Lagu dengan satu bagian yang terdiri dari Antencedens dan Consequens atau lagu dengan satu periode yang biasa dilambangkan dengan huruf “A” . Contoh salah satu lagu yang mempunyai bentuk satu bagian adalah Bagimu Negeri.
Dua bagian
Lagu dengan dua kalimat Antencedens dan Consequens yang merupakan bentuk lagu paling banyak dipakai oleh musik sehari-hari. Biasanya dilambangkan dengan huruf “A B”. Contoh bentuk lagu yang mempunyai dua bentuk dua bagian adalah Satu Nusa Satu Bangsa, Ibu Kita Kartini, dan Soleram.
Tiga bagian
Lagu yang terdiri dari tiga kalimat Antecendens dan Consequens atau lagu yang mempunyai tiga periode yang berlainan . Biasanya dilambangkan dengan huruf “A B A” atau “A B C”. Contoh lagu dalam bentuk tiga bagian adalah Indonesia Raya dan Bangun Pemudi dan Pemuda.
Di dalam sebuah lagu terdapat beberapa bagian yang di dalamnya menggunakan motif-motif yang menunjang sebuah lagu menjadi lebih indah dan enak didengar. Motif tersebut diolah, sehingga membentuk suatu kalimat yang indah. Berikut ini adalah bentuk dari pengolahan motif :
Alasan Karya Diciptakan
Menurut Louis Fichner Rathus ada beberapa alasan karya seni dibuat . yaitu antara lain :
Kriteria dalam menginterpretasi sebuah karya berdasarkan penilaian Bentuk penilaian pada karya seni rupa merupakan gabungan antara pribadi seniman dengan gagasan atau ide yang dijadikan konsep dalam berkarya, adanya permasalahan yang akan dikemukakan oleh seniman serta seberapa jauh masalah tersebut dapat diselesaikan. Tema yang akan digarap dan bagaimana pengarapannya, materi yang dipilih untuk mewujudkan karya, teknik yang digunakan, serta pengalaman dan latar belakang seniman, kesemuanya saling berkait dan berhubungan untuk menunjang sebuah interpretasi yang tepat.
Bentuk Pdf Download disini
Dalam birama 9/8 mempunyai arti dalam satu birama terdapat 9 ketukan berdasarkan nilai not yang bernilai 1/8.
Dalam birama 12/8 mempunyai arti dalam satu birama terdapat 12 ketukan yang di dalamnya mempunyai nilai not 1/8 di dalam satu ketuknya.
Contoh birama campuran adalah 5/4, 7/4 dan 7/8. Dalam birama 5/4 dalam satu birama terdapat lima ketuk yang di dalamnya mempunyai nilai not 1/4 di dalam satu ketuknya.
Dalam birama 7/8 mempunyai arti dalam satu birama terdapat tujuh ketukan yang di dalamnya mempunyai nilai not 1/8 di dalam satu ketuknya.
Tempo
Tempo merupakan satuan kecepatan dalam musik. Tempo mengatur cepat atau lambatnya suatu karya musik. Dalam perkembangannya pada abad 13-16 tempo diungkapkan dengan not putih untuk tempo lambat not hitam dengan tempo untuk tempo sedang, dan not bendera untuk tempo cepat . Beberapa contoh di antaranya :
Tempo Lambat
- Grave : Lambat, tenang ( MM=40-44)
- Largo : Sangat Lambat (MM=44-48)
- Lento : Lambat ( MM= 50-54)
- Adagio : Lebih lambat dari andante (MM = 54-58)
- Larghetto : Sedikit lebih cepat dari Largo ( MM=58-63)
Tempo Sedang- Andante : seperti orang berjalan (MM=69-76)
- Andantino : sedikit lebih cepat dari Andante (MM=76-84)
- Moderato : sedang (MM =92-104)
Tempo cepat- Allegretto : agak cepat (MM=104-112)
- Allegro : cepat (MM=126-138)
- Vivace : lincah, dan cepat (MM = 152-168)
- Presto : sangat cepat (MM= 176-192)
- Prestissimo : sangat sangat cepat (MM=192-208)
Dalam suatu karya musik , tempo tidak selalu dimainkan dalam satu indikator yang sama dari awal hingga akhir lagu. Perubahan tempo juga bisa menjadikan perubahan suasana terhadap suatu lagu. Tanda – tanda lain yang menyatakan perubahan tempo adalah Accelerando yang mempunyai arti semakin cepat dan Ritardando yang mempunyai arti semakin lama semakin lambat.
DinamikaDinamika adalah tanda untuk memberikan suatu keras atau lembutnya suatu musik . Dinamika termasuk unsur paling penting dalam pembawaan musik. Dinamika biasanya digunakan oleh komposer untuk menunjukkan bagaimana perasaan yang terkandung dalam lagu tersebut.
Ada beberapa tanda dinamika yang digunakan dalam karya musik yaitu ;
Pianissimo (pp) : memainkannya dengan sangat lembut
Piano (P) : memainkannya dengan lembut
Mezzo Piano (mp) : memainkan dengan agak lembut
Mezzo forte (mf) : memainkan dengan agak keras
Forte (F) : Memainkan dengan keras
Fortessimo (FF) : Memainkan dengan sangat keras
Di dalam musik juga terdapat tanda dinamika yang menuliskan dinamika secara bertahap dengan tanda Cresescendo dan Decrescendo. Tanda Crescendo dilambangkan dengan tanda (<) yang mempunyai arti semakin lama semakin keras dalam bermain musik. Decrescendo dilambangkan dengan tanda (>) yang mempunyai arti semakin lama semakin lembut dalam bermain musik.
Istilah istilah dinamika dan tempo terkadang menggunakan tambahan di depannya seperti :
- Meno : Lebih sedikit
- Poco : Sedikit
- Poco a poco : Sedikit demi sedikit
- Molto : Banyak
- Piu : Lebih banyak
- Similie : seperti
- Con : dengan
- Subit : segera
Bentuk Musik Bentuk musik merupakan suatu gagasan atau ide yang nampak dalam pengolahan tujuh susunan nada yang di dalamnya terdapat unsur musik dalam sebuah komposisi (melodi, irama, harmoni, dan dinamika). Istilah bentuk musik digunakan untuk mengidentifikasi pola-pola yang lebih kecil baik bekerja di musik instrumental maupun di vocal. Bentuk struktural utama disebut bagian. Maka istilah dua bentuk bagian atau tiga bentuk bagian atau tiga bentuk bagian lagu tidak mengacu pada jumlah suara yang berpartisipasi tetapi menjadi untuk bagian utama . Di dalam bentuk musik terdapat unsur yang mendukung bentuk musik yaitu, motif, frase kalimat, dan struktur.
Frase kalimat / periode
Merupakan sejumlah ruang birama yang merupakan satu kesatuan di dalam sebuah musik. Kesatuan di dalam sebuah musik, dapat dilihat dari akhir kalimat yang menimbulkan berakhirnya suatu lagu dengan progresi akor tertentu yang membuat suatu lagu mempunyai suatu ciri khas pada simetri kalimat. Ilmu bentuk menggunakan sejumlah kalimat / periode yang ditandai dengan huruf besar (A, B, C, dsb). Bila sebuah kalimat periode diulang dengan disertai perubahan , maka huruf besar disertai dengan tanda petik (‘) misalnya A, B, A’
Di dalam sebuah musik terdapat sebuah kalimat yang di dalam kalimat ini terdapat dua anak kalimat (pharase), yaitu yang terdiri atas:
1. Kalimat pertanyaan / Antencedens phrase
Kalimat pertanyaan berada di awal kalimat. Kalimat pertanyaan ini biasanya berhenti pada akor yang mengambang, maka pada umumnya di dalam kalimat pertanyaan menggunakan akor dominan yang menimbulkan kesan pada lagu belum selesai dan lagu tersebut kan dilanjutkan.
2. Kalimat jawaban / Concequens phrase
Kalimat jawaban merupakan bagian kedua dari kalimat sebelumnya, karena di kalimat jawaban ini melanjutkan pertanyaan dan biasanya berhenti di akor tonika.
Dari gambar di atas birama 1 hingga birama 2 merupakan merupakan kalimat tanya atau Antecedens dikarenakan pada birama 2 pada ketukan ke tiga menggunakan akor V yang artinya kalimat dalam lagu tersebut belum selesai, lalu pada birama 3 sampai merupakan kalimat jawab atau Consequens dengan pemberhentian lagu tersebut di akor tonika.
Di dalam sebuah karya terdapat beberapa tipe bagian bentuk lagu, yaitu ;
Satu bagian
Lagu dengan satu bagian yang terdiri dari Antencedens dan Consequens atau lagu dengan satu periode yang biasa dilambangkan dengan huruf “A” . Contoh salah satu lagu yang mempunyai bentuk satu bagian adalah Bagimu Negeri.
Dua bagian
Lagu dengan dua kalimat Antencedens dan Consequens yang merupakan bentuk lagu paling banyak dipakai oleh musik sehari-hari. Biasanya dilambangkan dengan huruf “A B”. Contoh bentuk lagu yang mempunyai dua bentuk dua bagian adalah Satu Nusa Satu Bangsa, Ibu Kita Kartini, dan Soleram.
Tiga bagian
Lagu yang terdiri dari tiga kalimat Antecendens dan Consequens atau lagu yang mempunyai tiga periode yang berlainan . Biasanya dilambangkan dengan huruf “A B A” atau “A B C”. Contoh lagu dalam bentuk tiga bagian adalah Indonesia Raya dan Bangun Pemudi dan Pemuda.
Di dalam sebuah lagu terdapat beberapa bagian yang di dalamnya menggunakan motif-motif yang menunjang sebuah lagu menjadi lebih indah dan enak didengar. Motif tersebut diolah, sehingga membentuk suatu kalimat yang indah. Berikut ini adalah bentuk dari pengolahan motif :
- Repetition. Repetition memiliki pengertian motif yang dimana motif tersebut mengalami pengulangan
- Sequence/Sekuen. Sequnce merupakan pengulangan motif pada tingkat yang berbeda dengan cara melompat atau melangkah .
- Augmentation of Ambitus. Augmentation of Ambitus adalah motif yang mengalami pembesaran interval.
- Augmentation of value. Augmentation of value memiliki pengertian penambahan nilai pada motif.
- Contrary Motion. Contrary motion disebut juga dengan gerakan berlawan. Contrary motion merupakan pengembangan motif dengan menggunakan arah yang berlawanan dari motif sebelumnya.
- Retrograde. Retrograde merupakan pembalikan motif dari belakang ke depan . Pengembangan motif ini mempunyai pergerakan motifnya seperti cermin.
- Deletion
Alasan Karya Diciptakan
Menurut Louis Fichner Rathus ada beberapa alasan karya seni dibuat . yaitu antara lain :
- To Create Beauty
- To Provide Decoration
- To Reveal Truth
- To Immortalize
- To Express Religious Values
- To Express Fantasy
- To Stimulate The Intellect and Fire the Emotion
- To Express Chaos
- To Record and Commemorate Experince
- To Reflect the Social and Cultural Context
- To Project Injustice and Raise Social Consciousness
- To Elevate the Commonplace
- To Meet The Needs of The Artist
Kriteria dalam menginterpretasi sebuah karya berdasarkan penilaian Bentuk penilaian pada karya seni rupa merupakan gabungan antara pribadi seniman dengan gagasan atau ide yang dijadikan konsep dalam berkarya, adanya permasalahan yang akan dikemukakan oleh seniman serta seberapa jauh masalah tersebut dapat diselesaikan. Tema yang akan digarap dan bagaimana pengarapannya, materi yang dipilih untuk mewujudkan karya, teknik yang digunakan, serta pengalaman dan latar belakang seniman, kesemuanya saling berkait dan berhubungan untuk menunjang sebuah interpretasi yang tepat.
Alienasi dalam musik Alienasi adalah
teori yang pertama kali dikemukakan oleh Karl Marx tentang munculnya
sebuah keadaan dimana seseorang mendapatkan keadaan yang
terasing dalam kehidupannya sendiri. Karl Marx mengemukakan teori
ini sebagai hasil dari eksploitasi kapitalisme terhadap kaum buruh
dengan mengartikan kaum buruh sebagai modal.
Keterasingan
terjadi karena semakin banyaknya modal terkumpul untuk si
kapitalis, dan semakin miskin pula si buruh akibat dari hasil
eksploitasi si kapitalis. Artinya si kapitalis menimbun banyak harta
yang sebenarnya merupakan nilai lebih barang yang telah
diciptakan si buruh, karena buruh tidak memiliki kekuasaan untuk
menjual barang tersebut. Efeknya si buruh akan menjadi tak
berharga saat nilai lebih dari barang-barang yang dia buat
jauh lebih tinggi dan tidak sepadan dengan gaji yang ia dapat.
Si buruh pun terasing dari hasil karyanya sendiri.
Alienasi
juga bisa terjadi dalam musik. Theodor Adorno adalah salah
satu seorang filsuf musik yang mempunyai konsep alienasi dalam
musik dan Adorno merupakan salah satu filsuf besar di dalam
sejarah filsafat Barat abad ke-20. Theodor Wiesengrund Adorno
adalah seorang filsuf, komponis, sosiolog dan teoretisi estetika.
Ia lahir di Frankfurt am Main pada tanggal 11 September 1903,
dan meninggal di Swiss pada tanggal 6 Agustus 1969. Ayahnya, Oscar
Wiesengrund, adalah seorang pedagang anggur keturunan Yahudi.
Sedangkan ibunya, Maria Calvelli-Adorno, adalah seorang penyanyi
professional . Menurutnya, musik yang baik tidak mudah untuk
dipahami. Karena ketidaksenangannya pada segala sesuatu yang mudah
“ditangkap”, hal ini membawa Adorno pada caranya memandang
rendah musik yang dikonsumsi oleh massa. Itulah alasannya ia
kemudian mengembangkan filsafat musik “modern” dimana musik yang
ada memiliki kewajiban dasar untuk menantang kesadaran dan
dengan cara demikian memajukan masyarakat . Menurut Adorno, musik
yang memiliki kualitas demikian adalah musik atonal
Schoenberg. Dengan menentang teori musik tradisional dan juga
gaya yang mudah ditangkap, musik Schoenberg berhasil
menunjukkan bahwa tonalitas yang kelihatannya alamiah dan begitu
adanya ternyata bersifat contingent (lihat di glosarium halaman
125). Dengan melawan konvensi, ia menguak historisitas dan sifat
arbiter tonalitas. Dengan menolak untuk menjadi musik yang
dapat dikonsumsi, musik atonal berhasil melawan kekuatan
reifikasi dan fetishisme . Musik yang memenuhi peran sosialnya
paling baik ketika ia menghadirkan permasalahan sosial dalam
materi-materi dan bentuk-bentuknya – melalui konfigurasi formalnya.
Ia akan menantang akal budi bila ia memiliki “clear form” tetapi
“ada masalah” dalam hal materinya. Musik yang demikian
mengekspresikan “alienasi”.
Schoenberg sangat memahami dan tidak
takut menghadapi permasalahan alienasi itu, sesungguhnya Schoenberg
menciptakan musik yang bebas dari fungsi sosial. Tidak semua
musik modern mampu memenuhi tugasnya. Musik yang berhasil adalah
musik yang berhasil menunjukkan dan mempertahankan otonominya.
Musik itu akan menolak usaha penyatuan budaya industri dan konsumsi
yang tak kritis oleh para pendengar. Hal itu dilakukan dengan cara
menolak nyamannya konvensi. Hanya musik avant-garde yang dapat
melakukan hal ini, sebab musik ini “terlepas dari budaya ‘resmi’”.
Musik yang berhasil haruslah musik yang disonan. Hal ini
membantu untuk melawan kualitas yang “baik” yang
sesungguhnya menyelubungi dan mempertahankan ideologi di dalam
masyarakat modern. Bunyi disonan akan memaksa kita untuk
menghadapi derita dan fragmentasi kehidupan sosial modern. Seni
tinggi kekurangan keseriusannya karena efeknya yang di program.
Konsep
alienasi ini digunakan oleh banyak seniman sebagai konsep untuk
mempertunjukkan karyanya. Salah satunya adalah komponis Claude
Debussy.
Debussy lebih banyak menggunakan warna suara yang
lembut dan lebih menekankan kepada ekspresi dan emosi, sehingga
pendengar akan merasakan suatu kenikmatan ketika mendengarkan
karyanya. Dengan ciri khas ini, musik Debussy dikenal sebagai
antitesis dari kromatisisme ala Richard Wagner. Akan tetapi ,
setelah Perang Dunia I terjadi (tahun 1914), justru musik Debussy
berubah menjadi lebih “tajam” dan “agresif”, dari segi pemilihan nada.
Hal ini sangat terlihat pada bagian kedua dari “En Blanc et Noir” .
Berikut adalah bagian kedua dari “En Blanc et Noir” :
Pada
tiga nada pertama dari “En Blanc et Noir” dan “Ein feste Burg ist
unser Gott”, ada kesamaan dimana tiga nada ini merupakan tonika
dari masing-masing tonalitas dan tiga nada ini adalah nada yang
sama, yang diulang sebanyak tiga kali. Setelah itu Debussy
“melompati” bir. 2 dari “Ein feste Burg ist unser Gott” untuk
langsung mengadaptasi bir. 3 dari koral ini. Hal ini terlihat
dari penggunaan nada Bb-C-D (nada tingkat V-VI-VII dari tonalitas
Eb Mayor) pada bir. 2 karya Debussy dan dilanjutkan ke nada
Eb (tingkat I) di bir. 3; sementara bir. 3 dari koral Bach ini
menggunakan nada A-B-C#-D (nada tingkat V-VI-VII dari tonalitas D
Mayor). Hanya saja adaptasi ini disamarkan dengan cara mengubah
pola ritmenya, dari yang seharusnya satu not seperempat-dua not
seperdelapan-satu not setengah, menjadi dua not seperdelapan- satu
not seperempat -satu not seperdelapan. Setelah itu, dua not
terakhir di bir. 3 “En Blanc et Noir” mengikuti dua not terakhir
pada bir. 4 “Ein feste Burg ist unser Gott”; yaitu sama-sama sebagai
nada tingkat VII dan tingkat VI dari tonalitas masing-masing.
Kesamaan
tingkat nada yang ditunjukkan oleh gambar 4a dan 4b ini menunjukkan
bahwa Debussy mengambil tema dari lagu kebangsaan Perancis,
kemudian dibuyarkan pola ritmenya sebagai bentuk sindirannya terhadap
keterlibatan Perancis dalam Perang Dunia I. Hal ini membuat
karya ini seakan dikenal oleh orang banyak, tetapi ternyata tidak
sama seperti apa yang ada di pikiran orang banyak itu.
Inilah
yang dilakukan oleh para komponis yang mengadaptasi konsep
alienasi pada karya-karyanya, yaitu memberi jarak dan “mengasingkan”
pendengarnya dari apa yang terjadi di panggung. Dengan emosi
penonton “diasingkan” dari panggung, maka tingkat intelektual
mereka akan lebih digunakan untuk bisa menganalisis karya seni
yang sedang mereka nikmati. Jadi, konsep alienasi dalam musik
ini bertujuan untuk membuat penonton berpikir kritis dan
tidak terbuai dalam emosi yang dibangun oleh musik.
Maksudnya disini adalah penonton dibuat untuk berpikir bahwa
di dalam setiap karya musik mempunyai produk sejarah, bukan
hanya untuk kenikmatan si pendengar saja.
Sejarah hidup Mochtar EmbutMochtar
Embut adalah salah satu komponis yang mempunyai andil dalam
perkembangan musik klasik di Indonesia. Mochtar Embut banyak
membuat karya musik klasik untuk instrument dan lagu seriosa.
Lahir di Makasar, Sulawesi Selatan, 5 Januari 1934 meninggal di
Bandung, Jawa Barat, 20 Juli 1973 pada umur 39 tahun. Almarhum
adalah seorang pemusik dan komponis Indonesia. Pada usia 5
tahun mulai bermain piano. Empat tahun kemudian ia menciptakan
sebuah lagu untuk anak-anak, yaitu Kupu-Kupu. Belajar bermain
piano secara otodidak. Pada usia 16 tahun, menyelesaikan karya
pertamanya untuk piano. Mochtar Embut mengenyam pendidikan
akademis di Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan Bahasa
Perancis.
Lagu–lagu ciptaan Mochtar Embut mencerminkan hidupnya
yang sepi, pemalu, dan tak menyukai publisitas. Mochtar Embut
pernah mendapatkan penghargaan dengan karyanya yaitu With The
Deepest Love From Jakarta ketika beliau mengikuti festival lagu
pop intenasional di Jepang pada tahun 1971. Mochtar Embut
kemudian bertindak sebagai dirigen orchestra yang memainkan
ciptaannya, dan demikian beliau menjadi orang Indonesia pertama
yang pernah memimpin orkes simfoni Tokyo.
Mochtar Embut dikenal
sebagai salah satu komponis seriosa yang tembang karyanya
bersifat puitis. Beliau dapat mengolah dan memadukan harmoni
musik dengan musikalisasi karya puisi. Mochtar Embut telah
menciptakan lebih dari 100 lagu. Kontribusi musik Mochtar Embut
juga mengikuti perkembangan politik dengan menciptakan lagu Mars
Pemilihan Umum di Indonesia. Lagu Keluarga Berencana ( KB ) untuk
mensukseskan gerakan keluarga berencana yang dimulai pada tahun
1970-an. Mochtar Embut menyelesaikan Kumpulan Lagu Populer I,
sebuah buku yang memuat 27 lagu rakyat Indonesia dan 9 lagu
barat.